Rabu, 10 Mac 2010 - 25 Rabiul Awal 1431 Hijriah
Arsip -
January, 2009
-
December, 2008
-
October, 2008
-
August, 2008
-
July, 2008
-
June, 2008
-
May, 2008
-
April, 2008
-
March, 2008
-
February, 2008
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Strategy & Environment : A Conceptual Integration |
|
|
|
|
Written by Willson Gustiawan
|
|
Thursday, 17 December 2009 |
Introduction Background Strategic management is an important task of managers and entails all of the basic management functions. It is a set of managerial decisions and actions that determines the long-run performance of an organization. One of significant reason is that it can make a difference in how well an organization performs. Another reason is the fact that organization of all types and size face continually changing situation. These changes may be minor or significant, but there is still change with which managers must cope. Strategic management is also important because of the nature of organization. They are composed of diverse divisions, units, functions, and work activities, that need to be coordinated and focused on achieving the organization’s goals. Finally it is important because it’s involved in many of the decision that managers make. Today, strategic management has moved to non-profit business organizations, includes governmental agencies, hospital and others. Central bank included in this category as governmental agency. The most fundamental questions about strategy address why firm succeed or fail, and when faced with the same environmental conditions, they have varying level of performance. Studies of the factors that contribute to organizational performance have shown a positive relationship between strategic planning and performance. In other words, it appears that organizations that use strategic management do have higher levels of performance, and that makes strategic management pretty important. |
|
Read more...
|
|
Teknologi dalam Bidang Jasa (e-service) |
|
|
|
|
Written by Willson Gustiawan
|
|
Tuesday, 20 October 2009 |
|
PENDAHULUAN
Perkembangan yang mencolok selama beberapa dasawarsa ini, ditandai dengan semakin pentingnya informasi dan pengolahan data dalam banyak aspek kehidupan manusia. Dengan tersedianya berbagai bentuk media informasi, kini masyarakat memiliki pilihan yang lebih banyak bagi informasi yang ingin mereka dapatkan. Organisasi-organisasi publik maupun swasta semakin banyak yang mampu memanfaatkan teknologi informasi baru yang dapat menunjang efektifitas, produktivitas dan effisiensi mereka. Teknologi otomasi adalah penunjang utama pembuatan keputusan di dalam organisasi-organisasi modern. Dalam hal ini, aplikasi teknologi komputer benar-benar telah menandai revolusi peradaban yang memungkinkan pekerjaan-pekerjaan di dalam organisasi dapat diselesaikan secara cepat, akurat dan effisien. Dunia tempat kita tinggal ini tidak bisa melepaskan diri dari kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Perkembangan terkini, dunia pendidikan memiliki e-learning; dunia bisnis sibuk dengan e-commerse; pemerintah memulai e-government-nya. Demikian semaraknya, sekarang apapun di-e-kan seperti e-banking, e-tax, e-registration, e-campus, e-book, e-ini, e-itu, “e-ntah” apa lagi. Istilah teknologi informasi dan komunikasi diterjemahkan dari bahasa Inggeris information and communication technology yang lazim disingkat ICT. Kemajuan teknologi ini memang dimulai dari negeri barat sana. Oleh karena itu, wajarlah jika istilah yang banyak dipakai dibidang teknologi informasi dan komunikasi ini berasal dari bahasa Inggeris.
|
|
Read more...
|
|
Spirituality on the Workplace |
|
|
|
|
Written by Willson Gustiawan
|
|
Tuesday, 20 October 2009 |
|
Introduction Spirituality in the Workplace is not a new educational topic. Since the beginning of the 20th century, there has been an increasing focus on the spirit, spirituality, and spiritual phenom¬enon in Western society. In corporate as well as higher educational settings, there have been various courses developed and implemented in the last seven or more years, with multiple titles that relate to this phenomenon. Particularly when courses or seminars on ethics, total quality environment (TQE), emotional intelligence, or the bottom line are presented, can we find influences from and referrals to spirituality in the workplace, as it has been crystallizing in understanding over the past few years. Over the last 10-15 years, a variety of scholars and writers have encouraged us to seek a path of spiritual discovery through the work that we do. Lately, this fo¬cus has shifted to the modern workplace with numerous articles and books, both popular and academic, championing the role of spirituality in improving organizations, markets and economies, and subse¬quently all of society. Contained within this discourse is the notion that spiritual individuals are ethical in business, and consequently, are of significant benefit to an organization The link between religion and work is not new. For centuries, people have strived to interpret their work through religious lenses. Recently, however, a significant paradigm shift has occurred. The current view is that spirituality, as opposed to reli¬gion, is a better construct for under¬standing the relationship between the individual and modern pluralistic workplaces. This current perspective, sourced in various socio-cultural fac¬tors, views spirituality as positively influencing numerous organizational outcomes. Also implicit within this discourse is the notion that allowing and encouraging spirituality in the workplace leads to improved ethical behavior at a personal level and an enhanced ethical climate/culture at an organizational level. What is unclear, however, is how an indi¬vidual’s spirituality translates into ethical behavior within an organizational context and the impact of this conversion.
|
|
Read more...
|
|
|
Written by Willson Gustiawan
|
|
Tuesday, 20 October 2009 |
|
Tanggal 2 Oktober kemarin dijadikan Hari Batik Nasional menyusul pengakuan atas batik sebagai warisan asli Indonesia. Hal ini bolehlah dikatakan sebagai pengakuan dunia karena dilegitimasi oleh UNESCO sebagai lembaga urusan kebudayaan tingkat international dibawah Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pada tanggal itu pulalah kami – segelintir orang yang peduli tentang kebudayaan dan kebangsaan Indonesia – berdiskusi. Diskusi memang berawal dari batik, tetapi kemudian mengalir dan meluas kepada kebangsaan. “Sebenarnya budaya itu milik bangsa atau negara?”, itulah pertanyaan pertama yang mengemuka dalam diskusi. Batik, sebagai sebuah hasil karya budaya, seharusnya dimiliki oleh suatu negara tertentu atau bangsa tertentu. Bangsa, barangkali secara sederhana dapat dikaitkan dengan etnis, ras atau suku tertentu. Sementara, negara, adalah suatu entitas yang secara nyata dibatasi secara geografis. Suatu negara tentu dapat saja terdiri atas beberapa bangsa, seperti di Amerika Serikat. Suatu bangsa dapat juga terbagi kedalam beberapa negara, seperti bangsa Arab dengan Saudi Arabia, Oman, Yaman, Kuwait, Bahrain dan negara-negara Timur Tengah lainnya. Dalam perjalanannya, suatu negara mengembangkan diri menjadi bangsa tersendiri. Orang Amerika akan bangga bila mereka disebut bangsa Amerika, dengan meninggalkan asal-muasal orang-orang tua mereka dari Eropa, Asia atau Afrika, bahkan penduduk asli. Kemudian, dikenal pula konsep state-nation (negara-bangsa), dimana orang-orang yang bersepakat membentuk negara itu membangsakan diri mereka sesuai dengan negaranya. Pemuda Indonesia telah memulai kesadaran ini dengan mempioniri Sumpah Pemuda 1928. |
|
Read more...
|
|
|
Written by Willson Gustiawan
|
|
Friday, 18 September 2009 |
Menghaturkan Selamat Meraya-rayakan Hari Raya pada Perayaan Hari Raya Besar Tarikh Hijriyah MCDXXXdan dipohonkan permaafan terhadap khilaf yang tampak dan yang tak ke atas hadapan Tuan-Puan. Keluarga Besar : Ayah Willson Gustiawan, Bunda Hera Maulidya, Abang Muhammad Alif Rabbani, Dinda Nadhira Adiba Rabbani. |
|
|
Written by Willson Gustiawan
|
|
Thursday, 03 September 2009 |
Samakah ketaatan kita? Sebuah renungan untuk berprilaku ekonomi sesuai syariah. Samakah ketaatan kita pada saat melaksanakan shalat dengan saat bertransaksi dengan bank? Demikianlah pertanyaan retoris sebagai sebuah renungan untuk mengukur kadar prilaku kita dalam berekonomi. Pada saat shalat, kita tentu tidak mau sembarangan. Ada hal-hal yang perlu diperhatikan demi tercapainya penegakkannya. Rukun, syarat sah dan hal-hal yang membatalkan sudah hapal diluar kepala, dan selalu dijaga secara hati-hati dalam ibadah shalat. Kita, tentu tidak serta merta begitu saja ketika akan shalat. Sebelumnya kita mesti bersuci, karena suci merupakan salah satu syarat sahnya shalat. Dalam berwudhu, kita juga berhati-hati melakukannya, menjaga agar wudhu itu sempurna, supaya pada akhirnya shalat juga sempurna. Dalam ibadah yang demikian, kita selalu berhati-hati, selalu taat dengan ketentuan-ketentuan syariat yang ada. Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah ketaatan itu, sama halnya ketika kita berprilaku ekonomi, misalnya, yang sederhana saja bertransaksi dengan bank. |
|
Read more...
|
|
|
Written by Willson Gustiawan
|
|
Wednesday, 19 August 2009 |
Keluarga Besar Willson Gustiawan mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa. Mohon Maaf Lahir dan Batin.Willson Gustiawan - Hera Maulidya - Muhammad Alif Rabbani - Nadhira Adiba Rabbani. |
|
| | << Start < Prev 1 2 3 Next > End >>
| | Results 1 - 12 of 34 |
|
|
Sejarah Kepala Laman |
|
|
|
|